
Selama puluhan tahun, krisis air bersih bukan sekadar isu bagi Nusa Tenggara Timur. Di Kampung Nu, Kecamatan Elar, krisis ini adalah kenyataan hidup yang telah dijalani warga sejak 1993 hingga hari ini.
Kampung terpencil ini dihuni oleh 38 Kepala Keluarga yang menggantungkan seluruh kebutuhan hidupnya hanya pada satu sumber air berupa kubangan sederhana, hasil gotong royong warga. Tidak ada pipa. Tidak ada sumur. Hanya genangan air yang sama, dipakai untuk segalanya.

Setiap hari, warga Kampung Nu harus berjalan sekitar satu kilometer melewati medan berbukit, naik dan turun, demi mendapatkan air. Perjalanan ini bisa memakan waktu hingga satu jam sekali jalan. Yang paling memilukan, anak-anak pun ikut memikul jerigen, mengorbankan waktu bermain dan belajar demi membantu keluarga mereka bertahan hidup.


Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan buruh dengan penghasilan yang sangat terbatas. Mereka tidak memiliki pilihan lain. Air keruh dari kubangan itulah yang digunakan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, hingga berwudhu. Air yang tidak layak konsumsi, namun terpaksa digunakan karena tidak ada alternatif.

Risiko penyakit menjadi ancaman harian. Gangguan kulit, masalah pencernaan, dan sanitasi yang buruk menghantui kehidupan warga. Para ibu mencuci dengan air kotor, anak-anak kehilangan masa kecilnya, dan aktivitas ibadah pun sering terganggu. Di Kampung Nu, bahkan air untuk bersuci sebelum ibadah menjadi kemewahan.

Kondisi ini semakin memburuk saat musim kemarau tiba. Kubangan air mengering atau berubah semakin keruh. Warga terpaksa menghemat air secara ekstrem, bahkan kebutuhan dasar seperti minum dan sanitasi sering kali tidak terpenuhi. Hidup mereka bergantung sepenuhnya pada hujan—yang tak selalu turun.
Di tengah keterbatasan ini, warga Kampung Nu hanya memiliki satu harapan sederhana namun mendesak. Hadirnya sumur bor air bersih, lengkap dengan pompa dan penampungan air yang bisa diakses dekat dengan pemukiman.
Air bersih bukan hanya soal kenyamanan.
Air adalah tentang kesehatan, martabat hidup, masa depan anak-anak, dan kelayakan beribadah.

Rasulullah bersabda bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah air. Dengan membantu menghadirkan sumur bor di Kampung Nu, Anda tidak hanya memberi air tetapi juga mengalirkan kehidupan, kesehatan, dan harapan bagi puluhan keluarga yang telah bertahan dalam krisis selama puluhan tahun.
Mari ambil bagian dalam perjuangan ini. Satu donasi hari ini dapat menjadi sumber air bersih yang terus mengalir dan menjadi pahala jariyah tanpa henti.
Bersama, kita bisa mengakhiri krisis air di Kampung Nu, Nusa Tenggara Timur.

![]()
Belum ada Fundraiser