

Bulan Ramadhan biasanya identik dengan adzan Maghrib, hidangan hangat, dan kebersamaan keluarga. Namun di Palestina, suasananya jauh berbeda. Di saat kita menunggu waktu berbuka dengan tenang, banyak keluarga di sana justru bertanya-tanya: apakah hari ini ada makanan untuk berbuka?
Bulan suci yang seharusnya membawa ketenangan justru mereka jalani dalam keterbatasan. Akses pangan tidak selalu tersedia, air bersih sulit didapat, dan listrik sering kali padam. Banyak keluarga bertahan di tempat pengungsian atau rumah yang sudah tidak lagi utuh, menjalani puasa di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.
Iftar bagi sebagian warga Palestina bukan soal menu apa yang dihidangkan, tetapi apakah ada yang bisa dimakan. Tak sedikit orang tua yang memilih menahan lapar lebih lama agar anak-anaknya bisa makan terlebih dahulu. Ada yang berbuka dengan makanan sangat sederhana, bahkan sekadar roti dan air.
Anak-anak menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Di usia yang seharusnya diisi dengan belajar dan bermain, mereka harus tumbuh dalam situasi sulit. Sebagian menghadapi kekurangan gizi, sebagian kehilangan tempat tinggal, dan sebagian lainnya kehilangan rasa aman yang seharusnya mereka miliki.
Meski begitu, harapan belum padam. Setiap waktu berbuka tetap disambut dengan doa dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu ada. Ramadhan adalah bulan di mana setiap kebaikan dilipatgandakan, dan setiap bantuan kecil bisa berarti sangat besar bagi mereka.

Hari ini, kita masih punya pilihan untuk berbagi. Menghadirkan paket iftar, membantu kebutuhan pangan, dan meringankan beban keluarga di Palestina bukan hanya tentang memberi makanan, tetapi tentang mengirimkan harapan. Semoga setiap suapan yang mereka rasakan menjadi pahala yang terus mengalir bagi kita semua.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik